Jumat, 18 November 2011

System Development Life Cycle (SDLC)



SDLC adalah tahapan-tahapan pekerjaan yang dilakukan oleh analis sistem dan programmer dalam membangun sistem informasi. Konsep ini umumnya merujuk pada sistem komputer atau informasi. Oleh karena itu SDLC juga merupakan pola yang diambil untuk mengembangkan sistem perangkat lunak, yang terdiri dari tahap-tahap: rencana(planning),analisa (analysis), desain (design), implementasi (implementation), uji coba (testing) dan pengelolaan (maintenance). Dalam rekayasa perangkat lunak, konsep SDLC mendasari berbagai jenis metodologi pengembangan perangkat lunak. Metodologi-metodologi ini membentuk suatu kerangka kerja untuk perencanaan dan pengendalian pembuatan sistem informasi, yaitu proses pengembangan perangkat lunak. Terdapat 3 jenis metode siklus hidup sistem yang paling banyak digunakan, yakni: siklus hidup sistem tradisional (traditional system life cycle), siklus hidup menggunakan protoyping (life cycle using prototyping), dan siklus hidup sistem orientasi objek (object-oriented system life cycle) .

Langkah yang digunakan meliputi :

1. Melakukan survei dan menilai kelayakan proyek pengembangan sistem informasi
2. Mempelajari dan menganalisis sistem informasi yang sedang berjalan
3. Menentukan permintaan pemakai sistem informasi
4. Memilih solusi atau pemecahan masalah yang paling baik
5. Menentukan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software)
6. Merancang sistem informasi baru
7. Membangun sistem informasi baru
8. Mengkomunikasikan dan mengimplementasikan sistem informasi baru
9. Memelihara dan melakukan perbaikan/peningkatan sistem informasi baru bila diperlukan

System Development Lyfe Cycle (SDLC) adalah keseluruhan proses dalam membangun sistem melalui beberapa langkah. Ada beberapa model SDLC. Model yang cukup populer dan banyak digunakan adalah waterfall. Beberapa model lain SDLC misalnya fountain, spiral, rapid, prototyping, incremental, build & fix, dan synchronize & stabilize.
Dengan siklus SDLC, proses membangun sistem dibagi menjadi beberapa langkah dan pada sistem yang besar, masing-masing langkah dikerjakan oleh tim yang berbeda.

Dalam sebuah siklus SDLC, terdapat enam langkah. Jumlah langkah SDLC pada referensi lain mungkin berbeda, namun secara umum adalah sama. Langkah tersebut adalah

  1. Analisis sistem, yaitu membuat analisis aliran kerja manajemen yang sedang berjalan
  2. Spesifikasi kebutuhan sistem, yaitu melakukan perincian mengenai apa saja yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem dan membuat perencanaan yang berkaitan dengan proyek system
  3. Perancangan sistem, yaitu membuat desain aliran kerja manajemen dan desain pemrograman yang diperlukan untuk pengembangan sistem informasi
  4. Pengembangan sistem, yaitu tahap pengembangan sistem informasi dengan menulis program yang diperlukan
  5. Pengujian sistem, yaitu melakukan pengujian terhadap sistem yang telah dibuat
  6. Implementasi dan pemeliharaan sistem, yaitu menerapkan dan memelihara sistem yang telah dibuat


Siklus SDLC dijalankan secara berurutan, mulai dari langkah pertama hingga langkah keenam. Setiap langkah yang telah selesai harus dikaji ulang, kadang-kadang bersama expert user, terutama dalam langkah spesifikasi kebutuhan dan perancangan sistem untuk memastikan bahwa langkah telah dikerjakan dengan benar dan sesuai harapan. Jika tidak maka langkah tersebut perlu diulangi lagi atau kembali ke langkah sebelumnya.

Kaji ulang yang dimaksud adalah pengujian yang sifatnya quality control, sedangkan pengujian di langkah kelima bersifat quality assurance. Quality control dilakukan oleh personal internal tim untuk membangun kualitas, sedangkan quality assurance dilakukan oleh orang di luar tim untuk menguji kualitas sistem. Semua langkah dalam siklus harus terdokumentasi. Dokumentasi yang baik akan mempermudah pemeliharaan dan peningkatan fungsi system

SDLC adalah System Development Life Cycle, yang sederhananya adalah tahapan - tahapan pengembangan sistem. Tahapannya pun sebagai berikut.

  1. Identification, yaitu proses mengidentifikasi kebutuhan! apa saja yang diinginkan dengan memiliki sebuah website, tentunya hal ini berkaitan dengan fasilitas - fasilitas yang ada di dalam website yang akan dibangun itu sendiri
  2. Analysis, proses menganalisa kebutuhan, proses menganalisa fasilitas - fasilitas apa saja yang diinginkan dalam web yang akan dibangun tersebut berdasarkan proses Identification.
  3. Design, yaitu proses perancangan sistem yang akan dibangun baik itu dari sisi desain layout atau tampilan (nilai artistik & estetika nya) ataupun dari sisi teknis seperti database dan aplikasi atau fasilitas yang akan menjadi bagiannya, berdasarkan hasil analisa sebelumnya.
  4. Implementation, yaitu proses development, proses meng-implemntasi design yang telah dibuat.
  5. Testing & Documentation, adalah proses penge-test-an hasil development dan proses mendokumentasikan apa yang telah dibuat.

Model pengembangan perangkat lunak sangat dibutuhkan dalam pengembangan perangkat lunak karena terdapat beberapa keterbatasan sewaktu mengembangkan perangkat lunak, yaitu

1. Biaya
2. Waktu
3. Sumber Daya

Model pengembangan digunakan untuk membantu memonitor dan mengontrol progress dan karena biaya kebanyakan sistem mengalami over time dan over budget. Tanpa metodologi, tidak ada aturan-aturan yang didefinisikan untuk “how do we proceed?” terutama berguna untuk pengembang sistem yang masih baru

Metodologi digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada aktivitas yang terlupakan dan kebanyakan (55%) sistem besar gagal. Model Proses Pengembangan Sistem adalah proses pengembangan sistem yang sangat resmi dan seksama yang mendefinisikan seperangkat aktifitas, metode-metode, best practices, deliverables, dan automated tools yang digunakan oleh pengembang sistem dan project manager untuk pengembangan dan pemeliharaan sistem dan perangkat lunak.

Model proses pengembangan perangkat lunak menggambarkan urut-urutan kejadian yang
diperlukan untuk membangun sesuatu produk perangkat lunak tertentu. Model proses pengembangan suatu perangkat lunak sangat diperlukan untuk mendefinisikan, menjelaskan, mengabstraksikan, memodifikasi, memperbaiki dan mendokumentasikan produk perangkat lunak, untuk menggunakan model proses yang baik harus memenuhi 3 ketentuan, yaitu :

  • Model harus mempunyai ‘descriptive power’ Sebuah model harus dapat mendeskripsikan yang dikerjakan dalam tahapannya. Software yang baik biasanya dapat terlihat melalui proses pengembangannya, jika suatu model tidak dapat mendeskripsikan prosesnya maka tidak semua orang dapat mengerti cara kerja pengembangannya. Maka buat apa memakai sebuah model yang hanya beberapa orang dalam tim saja yang mengerti.
  • Pola yang dibuat harus dapat mudah dibaca orang lain Suatu model digunakan agar semua orang dapat mengerti tahapannya sehingga mengerti apa yang dikerjakan agar menghasilkan perangkat lunak yang berkualitas.
  • Bisa dikomputerisasikan Model pengembangan digunakan agar dapat membantu mengembangkan perangkat lunak yang berkualitas, jika salah satu tahapan tidak dapat dikomputerisasikan maka model tersebut hanya akan menambah masalah dalam pengembangan bukannya mengurangi masalah. Oleh karena itu suatu model harus dapat melalui tahap komputerisasi.


Referensi :

1. http://yuliagroups.wordpress.com/system-development-life-cycle-sdlc/
2. http://wbudhysantika.blogspot.com/2007/12/web-sdlc.html
3. http://id.wikipedia.org/wiki/SDLC
4. http://sagung.wordpress.com/2008/03/17/system-development-life-cycle/
5. http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/1098/1/50406785.pdf

Tidak ada komentar:

Berikan Komentar